Pahlawan Terlupakan: Tanpa Banyak Bicara…Sniper MAUT Dari Cianjur Ini Dalam DIAM, Menghabisi 11 Serdadu Inggris.

Posted on

Tanpa banyak bicara dan dengan gerakan kilat, ia membekuk salah seorang prajurit yang berjalan paling belakang, melumpuhkannya lalu merampas senapan Lee Enfield milik prajurit itu (Ilustrasi: prajurit TNI membawa senjata).

LELAKI sepuh itu menatap dengan haru selembar foto tua yang ada di tangannya. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Ia kemudian menyorongkan foto tersebut kepada saya dalam gerak perlahan. “ Ini satu-satunya peninggalan bapak yang saya miliki. Selain ini, semuanya sudah musnah dibakar tentara Belanda puluhan tahun lalu,” katanya dalam nada sedih.

Mahkun Cipta Subagyo (70), nama lelaki sepuh tersebut, adalah salah satu putra Asmin Soetjipta alias A. Sucipta, pahlawan Cianjur yang namanya sudah terlupakan.

Secara pasti, Mahkun tak mengetahui tahun berapa Asmin dilahirkan. Ia hanya mengerti bahwa sang ayah bukan orang Cianjur asli namun merupakan seorang pendatang dari Rangkasbitung, Banten. “Ia mengembara ke Cianjur beberapa tahun sebelum Jepang datang ke Indonesia,” ujar pensiunan guru tersebut.

Asmin Soetjipta di tengah murid-muridnya saat berkunjung ke Kebun Raya Bogor (repro hendijo)

Di Cianjur, Asmin tinggal di Desa Cisarandi (masuk dalam wilayah Kecamatan Warungkondang) dan menjadi guru di Landbouwschool (sekolah pertanian setingkat SMP) Bojongkoneng. Di tengah kesibukannya sebagai seorang guru, Asmin bersahabat dengan Muhammad To’ib Zamzami, Lurah Desa Cisarandi kala itu. Begitu seringnya Asmin berkunjung ke rumah To’ib hingga lama kelamaan ia pun jatuh cinta kepada putri sang lurah yang bernama Sitti Aisyah. Singkat cerita, menikahlah mereka dan dikarunia dua putra, salah satunya adalah Mahkun.

 

 

Sebagai perantau yang datang dari Banten, Asmin dikenal ahli pencaksilat dan memiliki ilmu kanuragaan yang lumayan tinggi. Dengan keahliannya dan kedudukannya sebagai menantu lurah Cisarandi, tidak heran jika Asmin lantas dituakan dan dijadikan “jawara” yang menjaga keamanan desa yang terletak tepat di timur jalan raya Cianjur-Sukabumi tersebut.

Tahun 1945-1946, jalan raya di mulut Desa Cisarandi kerap dilewati oleh konvoi “pasukan ubel-ubel”. Itu nama julukan penduduk setempat untuk tentara-tentara Inggris dari kesatuan Jats, Rajuptana dan Patiala yang berkebangsaan India. Rupanya, saat melewati Cisarandi itulah, para prajurit ubel-ubel itu sering bertindak di luar kontrol: mengganggu gadis-gadis desa setempat dan bahkan tak jarang merampoki harta benda penduduk Cisarandi.

Mengetahui desanya diganggu, Lurah To’ib tentu saja merasa berang. Kepada Asmin, suatu hari To’ib menyampaikan rasa berangnya itu dan mengajak menantunya itu untuk mengadakan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pasukan-pasukan Inggris itu.

“ Cipta, kamu bisa cari senjata api ke kota?” tanya To’ib

“ Buat apa, Bah?” Asmin malah balik bertanya.

“ Ya tentu saja buat nembakin itu tentara ubel-ubel…”

“ Oh…Mangga, Bah! Tiasa!”

Besoknya, pagi sekali Asmin sudah berangkat ke wilayah Cianjur kota dengan berjalan kaki. Ketika di Simpang Tiga, dekat Kampung Tangsi (sekarang depan Gedung BRI Cianjur di Jalan A.Sucipta), ia berpapasan dengan beberapa orang serdadu Inggris. Tanpa banyak bicara dan dengan gerakan kilat, ia membekuk salah seorang prajurit yang berjalan paling belakang, melumpuhkannya lalu merampas senapan Lee Enfield milik prajurit itu.

Usai mendapatkan senjata, Asmin pun kabur ke arah jalur rel kereta api yang berada di sebelah timur Kampung Tangsi. Kendati sempat dihadiahi siraman peluru oleh kawan-kawan serdadu yang dirampas senjatanya itu, tak urung Asmin bisa lolos dan dengan menyusuri rel kereta api ia berjalan menuju Cisarandi.

Matahari baru saja naik di atas ubun-ubun. Cahayanya mencorong tajam saat Asmin berjalan di pematang sawah sambil menenteng Lee Enfield hasil rampasannya. Begitu mendekati rumah sang mertua, ia pun berseru dalam nada riang:

“Bah! Bah! Kenging yeuh bedil teh!” teriaknya sambil mengacung-acungkan senjata tersebut. Lurah To’ib tentu saja menyambut gembira atas keberhasilan menantunya mendapatkan senjata. Persoalan baru kemudian muncul karena tidak ada satu pun pemuda di Cisarandi yang mahir mempergunakan senjata. Namun Asmin tidak ambil pusing, ia lantas membawa senjata itu ke pejuang-pejuang lasykar lain dan meminta mereka untuk mengajarkannya. Dasar Asmin yang memang memiliki bakat bagus dalam menembak, hanya beberapa minggu dilatih ia berhasil menguasai senjata buatan Inggris itu secara baik.

Ketrampilan Asmin menembak menjadikannya seorang sniper (penembak runduk) yang mumpuni. Berdasarkan keterangan Mahkun yang pernah diceritakan oleh kakeknya, To’ib, dalam suatu penghadangan di jalan raya Sukabumi-Cianjur, Si Dukun (panggilan sayang Asmin untuk Lee Enfield pegangannya) pernah menghabisi 11 serdadu Inggris dari jarak sekitar 500 meter.

“ Menurut kakek, waktu itu ayah menembaki serdadu-serdadu tersebut dari balik pepohonan di pinggir Sungai Cisarandi…” ujar Mahkun.Sukses memimpin sejumlah penghadangan dan perampasan senjata, Asmin lantas membentuk pasukan yang diberi nama LASPO (Laskar Pesindo/Pemuda Sosialis Indonesia). S.Waloejo,pimpinan Pesindo wilayah Bogor mendapuknya sebagai komandan lasykar tersebut dengan pangkat: kapten. Selanjutnya pasukan yang dipimpin Asmin berkoordinasi dengan unsur-unsur pasukan Divisi Siliwangi.

Saat para petarung republik aktif memerangi tentara Belanda yang berusaha kembali menguasai wilayah Indonesia pada 1947-1949, pasukan Asmin Soetjipta termasuk di dalamnya. Pada suatu penghadangan di wilayah Bojongkoneng, pasukan Asmin sukses menghabisi satu peleton KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dan merampas sejumlah senjata.

Tidak cukup dengan penghadangan, Asmin pun kerap melakukan operasi kecil-kecilan (diikuti hanya oleh 2-3 gerilyawan) ke wilayah kota Cianjur. Menurut Rahmat Purawinata (64), bersama ayahnya (bernama Purawinata), Asmin pernah melakukan operasi sedikit agak nekad di wilayah jalan depan Pasar Bojongmeron.

Ceritanya, di suatu siang bolong, mereka melakukan penyergapan terhadap seorang serdadu Belanda yang tengah berjalan sendiri. Dengan menggunakan botol kecap, Asmin memukul kepala sang serdadu lalu merampas senjatanya. “ Setelah sebentar bersembunyi di kawasan Harmoni, mereka lantas kabur ke Cisarandi dengan menyusuri rel kereta api,” ungkap Rahmat.

Aksi-aksi Asmin dan pasukannya tentu saja membuat gerah pihak militer Belanda di Cianjur. Mereka lantas memburu Asmin hingga ke markas pasukannya di Cisarandi. Namun alih-alih menemukan Asmin, yang ada mereka hanya menemukan sejumlah rumah kosong. Demi menumpahkan rasa kesalnya, maka dibakarlah markas pasukan Asmin yang tak lain adalah rumah Lurah To’ib.

“ Untuk mencegah kembalinya tentara Belanda, pasukan Asmin kemudian membom Jembatan Cisarandi,” ungkap Mahkun.

Terjebak Muslihat Belanda

Tahun 1948, Divisi Siliwangi harus hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta. Namun keharusan itu tidak berlaku untuk sebagian kecil petarung republik di wilayah Jawa Barat yang memilih tetap bertarung dengan militer Belanda. Pasukan Asmin adalah salah satu kesatuan yang menolak untuk berangkat hijrah.

Beberapa bulan pasca hijrahnya Divisi Siliwangi ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, suatu hari tiba-tiba Asmin menerima sepucuk surat yang ditandatangani oleh atasannya di Bogor, Waloejo. Isinya: perintah agar ia dan pasukannya pergi ke Sukabumi untuk melakukan perundingan gencatan senjata dengan pihak militer Belanda. “ Saat pemberangkatan, senjata harap diikat dalam satu kumpulan dan masukan ke truk…” demikian salah satu bunyi perintah itu.

Merasa yakin dengan surat yang ditandatangani oleh pimpinannya, Asmin lantas menuruti perintah surat tersebut. Dengan menggunakan beberapa truk milik KNIL, mereka kemudian diangkut ke Sukabumi. Namun betapa marah dan terkejutnya mereka, begitu sampai di Sukabumi alih-alih dibawa ke meja perundingan, Asmin justru langsung dijebloskan ke penjara sedangkan semua anggota pasukannya dilepaskan begitu saja.

Ada suatu kejadian mengharukan, saat penahanan tersebut. Dua anak buah Asmin bernama Oking dan Satibi menolak dipulangkan oleh militer Belanda. Kendati Asmin sendiri sudah membujuk kedua anak muda itu untuk pulang kembali ke Cianjur, mereka tetap bergeming dengan pendiriannya.

“ Tidak bisa, Pak. Pak Asmin adalah komandan kami. Kami akan tetap bersama Pak Asmin, tak peduli dalam kondisi apapun itu…” jawab salah seorang dari kedua anak muda tersebut. Akhirnya ketiga patriot itu dibawa oleh militer Belanda ke penjara di Paledang, Bogor. Setelah diadili secara kilat, mereka lantas divonis hukuman mati.

Mahkun masih ingat, beberapa hari sebelum eksekusi dilaksanakan, ia yang saat itu masih bocah berumur sekitar 5 tahun, bersama sang ibu sempat mengunjungi Asmin di Bogor. Dalam pertemuan itu, Siti Aisyah menyerahkan sepasang pakaian putih yang dipesan sang sumi untuk menghadapi maut.

“ Saya ingat, wajah bapak terlihat tidak terawat dan penuh dengan bulu tapi ia terlihat berusaha tetap tersenyum…” kenang Mahkun. Saat akan berpisah, Asmin pun memeluk dan menciumi istri dan putranya itu. Ia meraih Mahkun kecil agak lama dalam dekapannya. “ Saya melihat air matanya meleleh…” ujar Mahkun.

Asmin Soetjipta, Oking dan Satibi beberapa hari kemudian digiring ke Kampung Dereded. Di sanalah Sang Penembak Runduk dan kedua anak buahnya itu menyambut sang maut dengan tabah dan sikap yang gagah. (hendijo).

Sumber: arsipindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *